Showing posts with label fiction. Show all posts
Showing posts with label fiction. Show all posts

Saturday, October 22, 2016

196 BPM: Elude


Title: 196 BPM: Elude
Year: 2015
Word Count: 8,800


Thursday, November 22, 2012

Orelio

Title: Orelio
Rating: C for Cute
Language: Indonesian
Genre: …not so sure…
Word count: 4,778 words


Thursday, August 23, 2012

Arya dan Mara

Title: Arya dan Mara
Rating: Mostly PG, with a slight R for gore
Language: Indonesian
Genre: Romance, drama, angst
Word count: 3,227 words

Aku menyuguhkan secangkir untuknya, dan secangkir untuk diriku sendiri. “Kau suka tempat ini?”



Saturday, August 18, 2012

Semi-Professional Masterlist


Indonesian:
           Cerita pendek, 2012. Setting sekolah ballet. Genre angst; PG-13.
           Kamu tetap bisa bersinar, Luno. Menjadi bulan yang paling terang.
            Cerita pendek, 2012. Setting rumah anak SMA. Genre romance; angst, PG-13.
            Aku menyuguhkan secangkir untuknya, dan secangkir untuk diriku sendiri. “Kau suka tempat ini?”
          Cerita pendek (masih ada kemungkinan edit), 2012. Setting kampus. Genre angst, R.      
          Perlahan, dia mendorong Cakra masuk ke bak agar anak itu tenang seperti mandi berendam.
          Novelet, 2011-12. Setting mata-mata, Latvia/Italia. Genre drama, PG.
          Terkadang, hati terlalu kuat untuk menyadari bahwa dia hanya membohongi diri.
          Cerita pendek, 2011. Setting kedutaan besar, Jerman. Genre teen, PG.
          Dentingan laguku terkadang belum cukup

Demi Tuhan, nulis rating pake bahasa Indonesia itu aneh. abis. untung gue ganti ratingnya jadi pake english.

Monday, August 13, 2012

Cerita Cacil

Title: Cerita Cacil
Rating: R for violence and cussing
Language: Indonesian
Genre: Angst
Word count: 4,544 words

Tidak semua orang bisa mengikhlaskan Cakra begitu saja.


Saturday, October 1, 2011

Saturday, August 20, 2011

Vikola, page 1

“Jadi, bagaimana? Kau ingin bekerjasama denganku?” ucap Viktor Perske setelah menyesap flat white hangatnya, menatapku dengan matanya yang selalu tajam, manis dan munafik.

Monday, October 25, 2010

Hatiku Ketinggalan di Jerman

    “Selamat ya, semuanya! Hebat!” Pak Amir, penanggungjawab kami menyalami kami satu per satu. Aku, dan tiga perwakilan Indonesia lainnya baru saja selesai tampil di Resital Piano Pelajar internasional di Wiener Konzerthaus, Vienna, Austria. Katanya, siap-siap, kami semua akan berangkat ke Berlin via kereta sebentar lagi.


Sunday, January 17, 2010

Staring

 “What's that? A monkey?” I asked, pointing your tiny phone display.
“A mixture of a monkey, a human and a fish,” you said, facing me, and then it took back your attention.
Beautiful—you, not the game.
And you then wandered back in that .jar applet. Seeing your monitor so seriously, with your thumbs busy with the keypads.
I could only stare at you, pretending to be so curious of why are you so serious. I didn't know how much did I let my eyes stare at you.
I kept on shouting in my heart, when I was just sitting on your left, facing you with a body-folding position curling your back.
I'd really want to explain it but words aren't flowing as usual.
I could only stare at you. Seeing your spear-sharp eyes stabbing the tiny monitor, colorful lights landing on your face, your lenses, your lips.
Twice the speaker holder made the speaker face my ear, torturing me that was sitting right beside it. I thought he was just kidding.
But I just realized that what he did was trying to take me back to reality, reminding me that I was staring at you for too long.

Yes, sweetheart, we have our own games.

Friday, July 31, 2009

Over the Rainbow

"Somewhere, over the rainbow,
way up high
There's a land that I've heard of,
once,
in a lullaby..
Somewhere, over the rainbow,
skies are blue
And the dreams that you told me, too,
really do come true.."
Itulah sedikit dari lagu "Over the Rainbow," lagu yang termasuk classics yang sudah mendunia. Memang lagu yang soothing dan bikin senyum. Tapi saya sendiri yang bikin masalah, membuat lagu ini jadi agak perih. Padahal ini salah satu lagu favorit saya. Here the story goes:

Nick (bilanglah namanya begitu), adalah salah satu teman yang kuanggap paling reliable, baik, dan supporting, meski memang kesempatan, mood, dan waktu tidak terlalu memungkinkan itu. Meski begitu, saya sendiri selalu berusaha membantu Nick dalam bentuk apapun, kalau dia butuh. Ingin saya ucapkan, "Just call my name anytime," tapi rasanya kurang enak dan srek, seakan-akan... entahlah. Ada saja kaca bening namun tebal dalam persahabatan jauh ini.

Yup. Persahabatan jauh. Kami tidak selalu bertemu. Dan pertemuan terakhir kami, aku takutkan akan menjadi pertemuan terakhir dalam arti sebenarnya. Ada beberapa hal yang ya... ditakutkan makin membuat kalut waktu dan jarak, menambah tebal kaca bening yang ada. Semoga saja tidak.

Apa hubungannya dengan "Over the Rainbow"?

Sebelum berpisah, saya mengucap, "See you someday..." dengan sebuah senyum, dalam hati berharap bahwa someday tidak lama lagi.

Dramatis. Nick berjalan menjauh, perlahan menghilang. Terdengar begitu drama, bukan?

Jadi ia terbang ke balik pelangi?

Ah, tentu saja tidak! Umm yaa... Beberapa hal membuat someday terdengar agak tidak mungkin sekarang. Beberapa hari setelah itu, saya sedang memikirkan lagu ini, dan tiba-tiba ingatan kemarin melintas, membuatku bernyanyi, "Someday, over the rainbow, way up high," bukannya 'somewhere' seperti seharusnya. Lagu ini menjadi agak 'menyeramkan' setelah ia bernyanyi-nyanyi di pikiranku, bahwa 'suatu hari' ada di balik pelangi, bukan suatu hari di balik pelangi, yang terdengar indah.

Yaa, semoga 'someday' ada di tempat yang tidak sejauh 'over the rainbow'.. Aku terakhir bertemu Nick 1.5 tahun lalu. Dan aku rindu Nick :) Kita ketemu lagi, yaa :)

Tuesday, July 7, 2009

Deskripsi

Rating:★★★
Category:Other
For girls only (meski boys boleh buka kalo penasaran). Singkat aja sih, hanya menguji kemampuan, seberapa jagokah aku memberi deskripsi. Ukurannya dihitung dari seberapa cakep karakter ini menurut kalian. Kasih bintang ya kalo komentar, soalnya itu masuk cara menilai. Tapi jelasin juga di komentarnya, gimana menurut kalian.

Okay, here it goes.

"VD. Rambutnya ikal dan coklat bistre—mendekati hitam. Matanya tajam dan hangat di waktu yang sama. Posturnya lanky dan hidungnya mancung, dan senyumnya, hanya ada dua pilihan saat kau melihatnya: beku atau leleh."


Apa deskripsinya terlalu pendek? Apa kurang nyastra? Hmm bilang aja semuanya, ok? Yang penting: cakep gak?--itu tolak ukurnya, karena aku maunya si VD ini terbayang cuaakep. Mau bikin deskripsi lebay model Stephenie Meyer saat menjelaskan mata emas Edward yang hangat seperti madu leleh.

Monday, May 11, 2009

akrilik

ini tulisan sangat tiba-tiba yang muncul di otak karena sedang ada beberapa pikiran tentang BSB yang lewat. agak aneh dan ekstrim bisa dibilang. kemungkinan juga sulit dimengerti. bercerita tentang seseorang di depan kaca yang menganggap bayangannya itu orang lain. here it goes:

Aku bisa merasakan akrilik di pipiku. Dengan jelas. Cat akrilik di atas kulit pipiku. Aneh. Seakan-akan aku memakai segala benda ini tanpa aku sadari.
Dengan senang hati aku mengacak-acak tubuhku, dengan dalil seni kulapisi diriku sendiri dengan benda-benda asing: kulit sapi yang bertekstur tidak ramah, plastik, sedikit sampah, flanel, akrilik lagi, beberapa milligram--betul-betul sedikit sekali--emas.
Aku pun berjalan menuju lemari pakaianku, menatap jendela yang memantulkan segala sesuatu di hadapnya, dan melihat badut menyeramkan di dalam jendela panjang itu, kakinya tidak terlihat karena jendela itu tidak cukup panjang untuk memantulkan bayangan kakinya. Jendela itu dibatasi border kayu.
Tapi matanya seperti mataku. Kulitnya putih kertas, dengan garis-garis merah menyerupai cakaran kucing dari dahi hingga sisi bibirnya. Masa iya itu aku?
Matanya yang seperti mataku pun tidak terlalu seperti mataku. Mataku yang hitam kecoklatan, tiba-tiba memiliki motif aneh dalam iris-nya. Motif yang cantik, namun membuat orang-yang-dibilang-aku ini makin menyeramkan.
Badut itu memakai jubah—atau sejenisnya, warnanya hitam dan terlihat bertekstur bulu dari jendela panjang berborder kayu itu. Bagian dalamnya terlihat terbuat dari kulit, warnanya tan. Badut yang lumayan keren…
Sebetulnya badut di kaca ini tidak lucu sama sekali--ia lebih mirip seperti saudara malaikat Malik daripada seorang badut.
Oh iya, tangan badut ini--maksudku, bagian tangan yang terekspos, karena sepertinya seluruh tangannya tertutupi jubah tadi--juga berwarna sangat putih dan penuh bekas luka, sama seperti wajahnya. Badut bodoh.
Tapi aku suka Badut-yang-Saking-Seremnya-Dibilang-Sodara-Malaikat-Neraka ini. Dia terlihat keren. Aku sedang berdiri di hadapannya sekarang--wow!
“Dewa…” suara ibuku memanggil. Apa lagi siih?!
“Iya Ma!” aku menyahut, bisa merasakan sesuatu seakan retak di atas wajahku saat aku membuka mulut, tapi mencoba untuk mengikuti kerut-kerut kulitku. Di kaca, terlihat badut itu menengok dan berputar ke kiri, berjalan dengan hati-hati di dalam balutan kulit sapi, plastik, flanel, emas dan akrilik, dan menghilang dari jendela panjang berborder kayu saat aku berjalan melewati pintu lemariku.
TAMAT